Skip to main content

Posts

KITA KALAH DARI CORONA

Kasus New Corona Virus atau lebih dikenal sebagai Covid-19 pertama kali menjangkit manusia pada tanggal 17 November 2019. Hingga Sabtu (18 April 2020), virus ini telah menjangkiti 2.275.782 orang dari hampir seluruh negara di dunia. Dan telah ada sebanyak 156.104 kematian yang diakibat oleh keganasannya. Makhluk tak kasat mata ini telah merubah tatanan peradaban manusia. Aktivitas ekonomi, Pendidikan, industri hingga aktivitas kebudayaan menjadi hampir berhenti total. Kesan mager yang beberapa waktu lalu dianggap merepresentasikan kemalasan kini menjadi semacam kegiatan heroic yang mampu menyelamatkan dunia. Di tengah perubahan yang menyeluruh ini, maka teater terhimpit pula. Aktivitas pentas menjadi hilang seketika. Latihan-latihan yang selama ini mengisi ruang public, sekolah dan kampus menjadi tiada. Diskusi-diskusi yang menjadi penghuni tetap warung kopi menjadi ikut berhenti pula. MENCARI CELAH Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, banyak usaha mencari celah...

TEATER BABAK-BELUR CORONA

Virus Corona telah menjangkiti berpuluh negara di seluruh penjuru dunia. Virus Corona tipe baru yang bermula dari negara Tiongkok ini diberi nama Covid-19. Nama ini kemudian secara cepat menjadi symbol ketakutan seluruh manusia di dunia ini. Pertanggal 21 Maret 2019 Covid-19 telah menjangkiti 288 ribu orang dan sebanyak 11 ribu diantaranya meninggal dunia. Untuk menghindari meluasnya wabah Covid-19, maka banyak negara melakukan aksi perlindungan, salah satunya dengan melarang kegiatan yang melibatkan banyak orang. Bahkan, beberapa negara telah menutup akses keluar masuk negaranya yang kemudian popular disebut sebagai lock dawn. Perekaman pertunjukan Sleuth di McCarter Theater Center, Princeton Langkah yang diambil negara ini tentu saja berakibat bukan hanya pada aktivitas pekerjaan, hiburan dan ekonomi, juga pada aktivitas kesenian. Aktivitas seni yang melibatkan banyak orang dicabut ijin penyelenggaraannya. Karena itu maka para seniman banyak yang menunda atau membat...

KAMAFEST : MEMBAWA KEMBALI TEATER PULANG KE RUMAHNYA

Menembus deru dan debu. Memecahkan kebekuan malam. Perjalanan malam itu adalah perjalanan kewarasan. Segala hiruk-pikuk telah membuat kita semua serupa robot-robot yang bekerja secara mekanik saja. Tuas-tuas, tanpa rasa. Maka perjalanan ini ditempuh. Hiruk-pikuk jalanan Kota Malang dan Singosari kita tinggalkan di belakang. Menelusuri jalanan yang semakin jauh dari keramaian, menuju Kamateatra Art Space. Menginjakkan kaki di sana, merasakan suasana pedesaan yang hening, seperti merasakan momen pulang kampung yang mistik. Suasana inilah yang rasanya ingin ditawarkan oleh Kamafest 2019. Sebagai sebuah parade yang jauh dari kemapanan kota besar, Kamafest tentu saja menjanjikan suasana dan sensasi yang berbeda. KITA MERENGGUT TEATER DARI RUMAHNYA Kita telah lama menculiknya, menyeretnya masuk ke dalam kendaraan, memaksanya diam, membawanya masuk Gedung pertunjukan hasil kapitalis, lalu memaksanya unjuk gigi di tengah penonton yang ogah-ogahan. Rasanya itu cukup menggambark...

ABITUS: Mampukah menjadi sampar?

Apakah sekarang saatnya aku minum obat penenang?   Waktu pagi, obat-obat itu membelenggumu, sedang pada malam hari obat-obat itu membuatmu tenang. Atau sebaliknya. Dialog tokoh HAM itu sepertinya yang menggerakkan pertunjukan Teater Sampar Indonesia pada minggu malam (15/9). Pentas dengan judul Abitus itu merupakan karya yang ditunggu-tunggu sebab telah lama sekali Teater Sampar Indonesia tidak menyentuh panggung. Memang, para pegiatnya terus saja berkarya secara individu, tetapi tidak secara kolektif. Maka pentas ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa Teater Sampar Indonesia masih hidup, meski harus melawan usia tuanya. Sebagai sebuah representasi, Abitus memang tidak sedang ingin menyimpulkan atau merangkum kompleksitas naskah Endgame karya Samuel Beckett. Sebuah representasi tetaplah hanya sebuah bagian kecil. Pengambilan topik “obat” dan “pengobatan” dirasa cukup menarik karena isu ini dikaitkan bukan hanya pada naskah asli, tapi juga diperluas dengan isu-isu te...

KEBANYAKAN DARI KITA TERLALU SEMBRONO MEMPERLAKUKAN NASKAH: TEATER KERTAS DAN TEATER COWBOY

    Tentu menyenangkan menonton pertunjukan teater. Lebih menyenangkan bila naskahnya berkualitas. Tetapi sangat menyakitkan bila naskah yang berkualitas dengan seenaknya diperlakukan. Melihat antusiasme teater kampus untuk mementaskan naskah-naskah standar dan berani melakukan editing tentu saja merupakan kesenangan tersendiri. Hanya saja sebagai sebuah karya, tentu saja selalu perlu dilakukan perbandingan-perbandingan. Ibarat dalam dunia musik, apabila cover lagu tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih baik—setidaknya sesuatu yang berbeda—maka sebuah karya cover lagu itu menjadi dinilai tidak baik. Sialnya di dunia teater seringkali kita melakukan “cover” itu dan mengalami banyak sekali kegagalan. Dengan melimpahnya sinyal internet; baik berupa paket data maupun wifi gratis; selayaknya kita mampu menghindari itu. Berbagai pementasan kini dipublikasikan di dalam berbagai platform , proses kreatifnya pun seringkali dipublikasikan secara umum. Kemudahan harusnya m...

CATHY TURNER DAN PELUANG RUANG KREATIF TEATER

Sebuah acara diskusi digelar hasil kerjasama antara Malang Study-club for Theatre (MASTER), Kamateatra dan Omah Co. dengan tema “Mencari Kemungkinan dalam New Dramaturgy Cathy Turner.” Diskusi yang berlangsung hampir dua jam ini mendapatkan antusias dari para pesertanya. Paparan mengenai dramaturgi menjadi topik yang relatif jarang dibahas di Kota Malang—atau mungkin juga di Indonesia. dramaturgi menjadi barang sakral yang sejak diucapkan sudah memiliki persepsi yang buruk dan rumit di mata para pendengarnya. DRAMATURGI DAN LITURGY Apabila dramaturgi dipandang sebagai sebuah panduan “beribadah” yang sakral, kaku, dingin dan tanpa kompromi, maka ketakutan dan keasingannya di lingkungan teater menjadi beralasan. Tetapi bukankah langkah menjadikan dramaturgi menjadi ritual liturgi sudah tidak lagi relevan? Dramaturgi sejatinya adalah hasil penelitian mendalam dari perilaku pertunjukan, teknik dan respon penonton yang m...