Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kritik teater

SEPTEMBER HITAM: Sekedar Dramatisasi Berita?

  September selalu menjadi bulan paling kelabu dalam pergaulan bangsa kita. Pada bulan ini secara rutin terjadi perdebatan tentang sejarah 65 dan polemik tentang film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Beberapa elit politik berseberang soal keharusan menonton film propaganda ini. Dan perdebatan setiap tahun ini sungguh melelahkan karena dilakukan oleh mereka yang malas belajar sejarah. Hantu-hantu menjadi komoditas politik untuk membangkitkan ketakutan dan ilusi “ratu adil.” Perdebatan konyol ini ironisnya justru mengakibatkan kita melupakan tragedi-tragedi kemanusiaan yang terjadi di bulan yang sama. Beberapa diantaranya adalah tragedi Tanjung Priok 1984, tragedi Semanggi II 1999, Pembunuhan Munir 2004, dan Reformasi Dikorupsi 2019 [i] . Sementara di luar negeri terjadi tragedi kemanusiaan berupa konflik yang berlangsung antara Angkatan Darat Yordania yang dipimpin oleh Raja Hussein melawan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang diketuai oleh Yasser Arafat 1970 d...

PANDEMI (DI) TEATER KINI: Berhenti atau Adaptasi

 Virus Corona tipe dua telah menyajikan sebuah pertunjukan teaternya. Tirai merah perlahan dibuka, repertoar dihasilkan dari perpaduan segala alat musik orchestra. Adegan dimulai; berawal dari sebuah kota kecil yang diingkari kehadirannya, kemudian kini menyebar hampir di semua negara. Sebagai sebuah pertunjukan, Pandemi Covid-19 telah membangun drama tragedinya sejak awal tahun 2020. Di sana rumah sakit berjubel pasien, berbaris-baris ekonomi runtuh, hingga lubang-lubang memenuhi area pemakaman. Seketika klimak dibangun dan segala kesedihan terlahir begitu saja. Sialnya, kita tidak pernah tahu kapan pertunjukan teater ini akan selesai dan tirai merah Kembali ditutup. Sialnya kita dipaksa tetap duduk di depannya dan menyaksikan segala tragedinya. Bahkan, dalam kesialan amat besar, kita bisa saja ditarik masuk ke dalam kisahnya, menjadi salah satu aktor dan memainkan tragedi bersama mereka. Sebagaimana Augusto Boal mengajak penontonnya untuk masuk dan menentukan arah laju cerita p...

ABITUS: Mampukah menjadi sampar?

Apakah sekarang saatnya aku minum obat penenang?   Waktu pagi, obat-obat itu membelenggumu, sedang pada malam hari obat-obat itu membuatmu tenang. Atau sebaliknya. Dialog tokoh HAM itu sepertinya yang menggerakkan pertunjukan Teater Sampar Indonesia pada minggu malam (15/9). Pentas dengan judul Abitus itu merupakan karya yang ditunggu-tunggu sebab telah lama sekali Teater Sampar Indonesia tidak menyentuh panggung. Memang, para pegiatnya terus saja berkarya secara individu, tetapi tidak secara kolektif. Maka pentas ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa Teater Sampar Indonesia masih hidup, meski harus melawan usia tuanya. Sebagai sebuah representasi, Abitus memang tidak sedang ingin menyimpulkan atau merangkum kompleksitas naskah Endgame karya Samuel Beckett. Sebuah representasi tetaplah hanya sebuah bagian kecil. Pengambilan topik “obat” dan “pengobatan” dirasa cukup menarik karena isu ini dikaitkan bukan hanya pada naskah asli, tapi juga diperluas dengan isu-isu te...

KEBANYAKAN DARI KITA TERLALU SEMBRONO MEMPERLAKUKAN NASKAH: TEATER KERTAS DAN TEATER COWBOY

    Tentu menyenangkan menonton pertunjukan teater. Lebih menyenangkan bila naskahnya berkualitas. Tetapi sangat menyakitkan bila naskah yang berkualitas dengan seenaknya diperlakukan. Melihat antusiasme teater kampus untuk mementaskan naskah-naskah standar dan berani melakukan editing tentu saja merupakan kesenangan tersendiri. Hanya saja sebagai sebuah karya, tentu saja selalu perlu dilakukan perbandingan-perbandingan. Ibarat dalam dunia musik, apabila cover lagu tidak mampu memberikan sesuatu yang lebih baik—setidaknya sesuatu yang berbeda—maka sebuah karya cover lagu itu menjadi dinilai tidak baik. Sialnya di dunia teater seringkali kita melakukan “cover” itu dan mengalami banyak sekali kegagalan. Dengan melimpahnya sinyal internet; baik berupa paket data maupun wifi gratis; selayaknya kita mampu menghindari itu. Berbagai pementasan kini dipublikasikan di dalam berbagai platform , proses kreatifnya pun seringkali dipublikasikan secara umum. Kemudahan harusnya m...

TEATER ASYIK SENDIRI

Pernahkah kita melihat pertunjukan teater yang tidak dihiraukan penontonnya. Ketika lampu panggung mulai menyinari, adegan digelar, musik ditabuhkan, tapi penonton malah mengobrol sendiri atau asyik menonton handphone masing-masing. Apakah kita semakin sering menyaksikan pemandangan itu? Dalam kondisi ini, maka kita melihat dua pertunjukan sekaligus. Pertunjukan pertama adalah panggung teater yang ditonton para pemainnya sendiri atau kru di belakang panggung. Pertunjukan kedua adalah pertunjukan yang dilakukan oleh penonton sendiri. Lalu apa gunanya membuat pertunjukan teater? PESIMISME SENIMAN TEATER Seniman teater adalah orang-orang yang percaya diri. Mereka mampu menghilangkan—atau setidaknya mengesampingkan—rasa canggung dan ketakutan untuk tampil di depan orang banyak. Itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi ada pesimisme yang terus menghantui mereka. Setidaknya pesimisme ini nampak dalam beberapa hal, yaitu rendahnya harga tiket, kecilnya target jumlah penonton,...

MEMANDANG PELANGI DI HARI BURUH

Pada tanggal 1 Mei 2019, Malang kembali diguyur hujan sejak sore seperti biasa. tetapi hal itu tidak menciutkan semangat Teater Pelangi Universitas Negeri Malang untuk mementaskan karyanya. Bertajuk "Pentas MONETER #2", yang menyajikan 3 pertunjukan; Membaca Tanda-Tanda karya Rahman Sabur, Kembang Mawar karya N. Riantiarno, dan Bunga tidur, adaptasi dari Baju Loak Sobek Pundaknya karya Wiji Tukul. Pementasan dimulai dengan sebuah Monolog berjudul membaca tanda-tanda, karya Rachman Sabur. Dalam pertunjukan pertama ini, penonton diajak untuk mengenal lebih dalam isu mengenai konflik agraria. Cukup pas ditampilkan saat momen hari buruh saat itu. MEMBACA TANDA-TANDA Akhir-akhir ini negeri kita banyak dibanjiri isu-isu yang saya rasa cukup mengancam, salah satunya tentang perkerja dan investor asing. mungkin hal inilah yang menjadi dasar teman-teman dari teater pelangi mementaskan   naskah ini. Pertunjukan ini bercerita tentang seseorang yang mempertahankan tanah...