Skip to main content

KRITIK

Master juga melakukan fungsi sebagai penegakpilar ketiga teater. Sebagaimana kita ketahui bahwa teater ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu penggarap, penonton dan pengamat. 

Dalam hal ini, Master berusaha menyeimbangkan antara penonton dan penggarap. Maka, dalam website ini juga dipaparkan kritik-kritik teater.

Apabila para pembaca sekalian memiliki ulasan dan atau kritik pada pertunjukan, dapat pula kami fasilitasi untuk dipublikasikan dalam website Master. Untuk info lebih jauh dapat menghubungi contact yang tersedia.

Comments

Popular posts from this blog

FESTAWIJAYA 6 : MEMBACA SAJA SULIT

Festival Teater Brawijaya (FESTAWIJAYA) 6 telah digelar pada tanggal 20-21 April 2019 di Gedung Kebudayaan Mahasiswa Universitas Brawijaya. Lomba teater yang melibatkan beberapa fakultas itu berlangsung secara sederhana.  PEMBACAAN SEKILAS Dalam memandang sebuah tulisan mengenai perlombaan, tentu harus kita pisahkan dengan proses atau pertimbangan penjurian. Juri tentu memiliki pendapat dan penilaian yang tercermin dari penentuan para juara. Seorang pengamat (sekaligus kritikus teater) menempatkan diri sebagai penonton biasa. Suara yang dituliskan oleh seorang pengamat/kritikus teater sejatinya sama sekali tidak berkaitan atau saling bergantung dengan pertimbangan penjurian. Hal ini perlu ditegaskan di awal agar tidak menimbulkan pemahaman yang sesat. Sebagai pengemat, tentu saja pembacaan terhadap pertunjukan yang disajikan dalam FESTAWIJAYA 6 sangat terbatas. Harapannya, meskipun terjebak dalam keterbatasannya, pengamat mampu memberikan perspektif berbeda yang mungkin l...

TEATER ASYIK SENDIRI

Pernahkah kita melihat pertunjukan teater yang tidak dihiraukan penontonnya. Ketika lampu panggung mulai menyinari, adegan digelar, musik ditabuhkan, tapi penonton malah mengobrol sendiri atau asyik menonton handphone masing-masing. Apakah kita semakin sering menyaksikan pemandangan itu? Dalam kondisi ini, maka kita melihat dua pertunjukan sekaligus. Pertunjukan pertama adalah panggung teater yang ditonton para pemainnya sendiri atau kru di belakang panggung. Pertunjukan kedua adalah pertunjukan yang dilakukan oleh penonton sendiri. Lalu apa gunanya membuat pertunjukan teater? PESIMISME SENIMAN TEATER Seniman teater adalah orang-orang yang percaya diri. Mereka mampu menghilangkan—atau setidaknya mengesampingkan—rasa canggung dan ketakutan untuk tampil di depan orang banyak. Itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi ada pesimisme yang terus menghantui mereka. Setidaknya pesimisme ini nampak dalam beberapa hal, yaitu rendahnya harga tiket, kecilnya target jumlah penonton,...

KITA KALAH DARI CORONA

Kasus New Corona Virus atau lebih dikenal sebagai Covid-19 pertama kali menjangkit manusia pada tanggal 17 November 2019. Hingga Sabtu (18 April 2020), virus ini telah menjangkiti 2.275.782 orang dari hampir seluruh negara di dunia. Dan telah ada sebanyak 156.104 kematian yang diakibat oleh keganasannya. Makhluk tak kasat mata ini telah merubah tatanan peradaban manusia. Aktivitas ekonomi, Pendidikan, industri hingga aktivitas kebudayaan menjadi hampir berhenti total. Kesan mager yang beberapa waktu lalu dianggap merepresentasikan kemalasan kini menjadi semacam kegiatan heroic yang mampu menyelamatkan dunia. Di tengah perubahan yang menyeluruh ini, maka teater terhimpit pula. Aktivitas pentas menjadi hilang seketika. Latihan-latihan yang selama ini mengisi ruang public, sekolah dan kampus menjadi tiada. Diskusi-diskusi yang menjadi penghuni tetap warung kopi menjadi ikut berhenti pula. MENCARI CELAH Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, banyak usaha mencari celah...

EKSISTENSI (ALISME) IWAN SIMATUPANG

Orang pada jaman ini sangat sedikit yang mengenal Iwan Simatupang. Dari pengenalan yang sangat sedikit itu, Iwan hanya dikenal sebagai seorang penulis novel. Novelnya  Ziarah  akhir-akhir ini kembali dicetak ulang setelah 50 tahun dari jarak penerbitannya yang pertama kali (1969). Dalam dunia teater, Iwan Simatupang dikenal dari naskahnya  Bulan Bujur Sangka, Petang Di Taman  dan  RT 0 RW 0 . Sejak tahun 1960-an memang naskah-naskah Iwan sudah berates kali dipentaskan, tetapi itu tidak lantas membuat ia dikenal dan popular di kalangan seniman teater. Nama Iwan sebagai penulis naskah tentu kalah popular dibandingkan dengan Chekhov, Arifin C. Noer atau bahkan Putu Wijaya. EKSISTENSI Sebagai seorang manusia, eksistensi Iwan Simatupang dimulai sejak 18 Januari 1928. Iwan sempat belajar di HBS ( Hogere Burgerschool, pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi) dan dilanjutkan dengan masuk ke seko...

PANDEMI (DI) TEATER KINI: Berhenti atau Adaptasi

 Virus Corona tipe dua telah menyajikan sebuah pertunjukan teaternya. Tirai merah perlahan dibuka, repertoar dihasilkan dari perpaduan segala alat musik orchestra. Adegan dimulai; berawal dari sebuah kota kecil yang diingkari kehadirannya, kemudian kini menyebar hampir di semua negara. Sebagai sebuah pertunjukan, Pandemi Covid-19 telah membangun drama tragedinya sejak awal tahun 2020. Di sana rumah sakit berjubel pasien, berbaris-baris ekonomi runtuh, hingga lubang-lubang memenuhi area pemakaman. Seketika klimak dibangun dan segala kesedihan terlahir begitu saja. Sialnya, kita tidak pernah tahu kapan pertunjukan teater ini akan selesai dan tirai merah Kembali ditutup. Sialnya kita dipaksa tetap duduk di depannya dan menyaksikan segala tragedinya. Bahkan, dalam kesialan amat besar, kita bisa saja ditarik masuk ke dalam kisahnya, menjadi salah satu aktor dan memainkan tragedi bersama mereka. Sebagaimana Augusto Boal mengajak penontonnya untuk masuk dan menentukan arah laju cerita p...