Skip to main content

CREATIVE ENTERPRISE

ASAP
Creative Enterprise




ASAP Creative Enterprise adalah sayap MASTER yang menyediakan jasa dalam pembuatan tropi akrilik atau kerajinan lain. Sebagai sebuah "kafe" kreatif, ASAP Creative Enterprise juga bersedia memberikan pembelajaran atau pelatihan pembuatan kerajinan.


Produk tropi akrilik yang pernah diproduksi Master

Produk kaos yang pernah diproduksi Master

Comments

Popular posts from this blog

KAMAFEST : MEMBAWA KEMBALI TEATER PULANG KE RUMAHNYA

Menembus deru dan debu. Memecahkan kebekuan malam. Perjalanan malam itu adalah perjalanan kewarasan. Segala hiruk-pikuk telah membuat kita semua serupa robot-robot yang bekerja secara mekanik saja. Tuas-tuas, tanpa rasa. Maka perjalanan ini ditempuh. Hiruk-pikuk jalanan Kota Malang dan Singosari kita tinggalkan di belakang. Menelusuri jalanan yang semakin jauh dari keramaian, menuju Kamateatra Art Space. Menginjakkan kaki di sana, merasakan suasana pedesaan yang hening, seperti merasakan momen pulang kampung yang mistik. Suasana inilah yang rasanya ingin ditawarkan oleh Kamafest 2019. Sebagai sebuah parade yang jauh dari kemapanan kota besar, Kamafest tentu saja menjanjikan suasana dan sensasi yang berbeda. KITA MERENGGUT TEATER DARI RUMAHNYA Kita telah lama menculiknya, menyeretnya masuk ke dalam kendaraan, memaksanya diam, membawanya masuk Gedung pertunjukan hasil kapitalis, lalu memaksanya unjuk gigi di tengah penonton yang ogah-ogahan. Rasanya itu cukup menggambark...

EKSISTENSI (ALISME) IWAN SIMATUPANG

Orang pada jaman ini sangat sedikit yang mengenal Iwan Simatupang. Dari pengenalan yang sangat sedikit itu, Iwan hanya dikenal sebagai seorang penulis novel. Novelnya  Ziarah  akhir-akhir ini kembali dicetak ulang setelah 50 tahun dari jarak penerbitannya yang pertama kali (1969). Dalam dunia teater, Iwan Simatupang dikenal dari naskahnya  Bulan Bujur Sangka, Petang Di Taman  dan  RT 0 RW 0 . Sejak tahun 1960-an memang naskah-naskah Iwan sudah berates kali dipentaskan, tetapi itu tidak lantas membuat ia dikenal dan popular di kalangan seniman teater. Nama Iwan sebagai penulis naskah tentu kalah popular dibandingkan dengan Chekhov, Arifin C. Noer atau bahkan Putu Wijaya. EKSISTENSI Sebagai seorang manusia, eksistensi Iwan Simatupang dimulai sejak 18 Januari 1928. Iwan sempat belajar di HBS ( Hogere Burgerschool, pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi) dan dilanjutkan dengan masuk ke seko...

SEPTEMBER HITAM: Sekedar Dramatisasi Berita?

  September selalu menjadi bulan paling kelabu dalam pergaulan bangsa kita. Pada bulan ini secara rutin terjadi perdebatan tentang sejarah 65 dan polemik tentang film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer. Beberapa elit politik berseberang soal keharusan menonton film propaganda ini. Dan perdebatan setiap tahun ini sungguh melelahkan karena dilakukan oleh mereka yang malas belajar sejarah. Hantu-hantu menjadi komoditas politik untuk membangkitkan ketakutan dan ilusi “ratu adil.” Perdebatan konyol ini ironisnya justru mengakibatkan kita melupakan tragedi-tragedi kemanusiaan yang terjadi di bulan yang sama. Beberapa diantaranya adalah tragedi Tanjung Priok 1984, tragedi Semanggi II 1999, Pembunuhan Munir 2004, dan Reformasi Dikorupsi 2019 [i] . Sementara di luar negeri terjadi tragedi kemanusiaan berupa konflik yang berlangsung antara Angkatan Darat Yordania yang dipimpin oleh Raja Hussein melawan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang diketuai oleh Yasser Arafat 1970 d...

PANDEMI (DI) TEATER KINI: Berhenti atau Adaptasi

 Virus Corona tipe dua telah menyajikan sebuah pertunjukan teaternya. Tirai merah perlahan dibuka, repertoar dihasilkan dari perpaduan segala alat musik orchestra. Adegan dimulai; berawal dari sebuah kota kecil yang diingkari kehadirannya, kemudian kini menyebar hampir di semua negara. Sebagai sebuah pertunjukan, Pandemi Covid-19 telah membangun drama tragedinya sejak awal tahun 2020. Di sana rumah sakit berjubel pasien, berbaris-baris ekonomi runtuh, hingga lubang-lubang memenuhi area pemakaman. Seketika klimak dibangun dan segala kesedihan terlahir begitu saja. Sialnya, kita tidak pernah tahu kapan pertunjukan teater ini akan selesai dan tirai merah Kembali ditutup. Sialnya kita dipaksa tetap duduk di depannya dan menyaksikan segala tragedinya. Bahkan, dalam kesialan amat besar, kita bisa saja ditarik masuk ke dalam kisahnya, menjadi salah satu aktor dan memainkan tragedi bersama mereka. Sebagaimana Augusto Boal mengajak penontonnya untuk masuk dan menentukan arah laju cerita p...

KITA KALAH DARI CORONA

Kasus New Corona Virus atau lebih dikenal sebagai Covid-19 pertama kali menjangkit manusia pada tanggal 17 November 2019. Hingga Sabtu (18 April 2020), virus ini telah menjangkiti 2.275.782 orang dari hampir seluruh negara di dunia. Dan telah ada sebanyak 156.104 kematian yang diakibat oleh keganasannya. Makhluk tak kasat mata ini telah merubah tatanan peradaban manusia. Aktivitas ekonomi, Pendidikan, industri hingga aktivitas kebudayaan menjadi hampir berhenti total. Kesan mager yang beberapa waktu lalu dianggap merepresentasikan kemalasan kini menjadi semacam kegiatan heroic yang mampu menyelamatkan dunia. Di tengah perubahan yang menyeluruh ini, maka teater terhimpit pula. Aktivitas pentas menjadi hilang seketika. Latihan-latihan yang selama ini mengisi ruang public, sekolah dan kampus menjadi tiada. Diskusi-diskusi yang menjadi penghuni tetap warung kopi menjadi ikut berhenti pula. MENCARI CELAH Di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, banyak usaha mencari celah...