Skip to main content

Posts

PANGGUNG PARA BADUT GAGU

Tirai disibak, lampu berbagi nyala, sang badut gagu muncul dari kegelapan, bicara terbata dan berjatuh-jatuh ria, gelak tawa menggema, isi kepala tak ada. Setidaknya begitulah potret teater Malang hari ini. Sebagian besar—bila tidak mau dikatakan hampir semua—teater di Malang terjebak pada dua persoalan: badut dan gagu. Sebagian dari mereka sekuat tenaga menjadi badut, mengais-ngais lelucon, menyiapkan teknik jatuh yang konyol dan riasan aneka warna. Sebagian lagi berapi-api dalam benak, tapi gagu. Akhir-akhir ini mudah sekali ditemukan sebuah pertunjukan yang digelar tanpa motivasi dan pendalaman substansi yang meyakinkan. Pertunjukan-pertunjukan digelar dari referensi naskah yang sangat minim dan seringkali ditujukan hanya untuk perwujudan eksistensi kelompok. Tujuan yang amat sempit. Upaya latihan berpuluh kali itu hanya dimaksudkan untuk memanggungkan teks dramatik. Ibarat sebuah projector yang menampilkan citra computer/laptop apa adanya. Projector yang tidak menghab...

TEATER ASYIK SENDIRI

Pernahkah kita melihat pertunjukan teater yang tidak dihiraukan penontonnya. Ketika lampu panggung mulai menyinari, adegan digelar, musik ditabuhkan, tapi penonton malah mengobrol sendiri atau asyik menonton handphone masing-masing. Apakah kita semakin sering menyaksikan pemandangan itu? Dalam kondisi ini, maka kita melihat dua pertunjukan sekaligus. Pertunjukan pertama adalah panggung teater yang ditonton para pemainnya sendiri atau kru di belakang panggung. Pertunjukan kedua adalah pertunjukan yang dilakukan oleh penonton sendiri. Lalu apa gunanya membuat pertunjukan teater? PESIMISME SENIMAN TEATER Seniman teater adalah orang-orang yang percaya diri. Mereka mampu menghilangkan—atau setidaknya mengesampingkan—rasa canggung dan ketakutan untuk tampil di depan orang banyak. Itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi ada pesimisme yang terus menghantui mereka. Setidaknya pesimisme ini nampak dalam beberapa hal, yaitu rendahnya harga tiket, kecilnya target jumlah penonton,...

ISLAM DAN TEATER : Menggali Tradisi Teater dalam Peradaban Islam

SEJARAH TEATER DALAM PERDABAN ISLAM Sejak tahun 60-an, di kalangan seniman muslim muncul gagasan-gagasan tentang teater Islam, seiring dengan munculnya perbincangan-perbincangan tentang sastra Islam. Seminar-seminar tentang sastra Islam yang di dalamnya dibahas juga tentang teater Islam beberapa kali diadakan dan buku-buku yang membahas sastra dan teater Islam pun ditulis para pakar muslim [i] . Pertunjukan Khayal al-zil Kemunculan teater dalam tradisi Arab bermula dari munculnya pertunjukan teater tradisi. Pertunjukan teater tradisi tersebut diantaranya adalah Khayal al-zil (bayangan imajinasi) dan Ta'zieh (pertunjukan teater belasungkawa). Khayal al-zil merupakan pertunjukan wayang tradisional dari Mesir dan diketahui telah ada sejak abad ke 10. Ide cerita yang diangkat oleh Khayal al-zil merupakan khasanah dan metafora yang dalam tentang Islam serta pada umumnya disajikan selama bulan Ramadan. Kesenian wayang ini pada abad ke 16 menyebar ke Turki dan mendapat per...

MEMANDANG PELANGI DI HARI BURUH

Pada tanggal 1 Mei 2019, Malang kembali diguyur hujan sejak sore seperti biasa. tetapi hal itu tidak menciutkan semangat Teater Pelangi Universitas Negeri Malang untuk mementaskan karyanya. Bertajuk "Pentas MONETER #2", yang menyajikan 3 pertunjukan; Membaca Tanda-Tanda karya Rahman Sabur, Kembang Mawar karya N. Riantiarno, dan Bunga tidur, adaptasi dari Baju Loak Sobek Pundaknya karya Wiji Tukul. Pementasan dimulai dengan sebuah Monolog berjudul membaca tanda-tanda, karya Rachman Sabur. Dalam pertunjukan pertama ini, penonton diajak untuk mengenal lebih dalam isu mengenai konflik agraria. Cukup pas ditampilkan saat momen hari buruh saat itu. MEMBACA TANDA-TANDA Akhir-akhir ini negeri kita banyak dibanjiri isu-isu yang saya rasa cukup mengancam, salah satunya tentang perkerja dan investor asing. mungkin hal inilah yang menjadi dasar teman-teman dari teater pelangi mementaskan   naskah ini. Pertunjukan ini bercerita tentang seseorang yang mempertahankan tanah...

KRITISISME, KRITIK DAN TEATER

Kritik seringkali membakar mereka yang menganggap dirinya sempurna. KRITISISME MEMANDANG SENI “Merekalah para penggerutu,” setidaknya itulah yang sering dilabelkan kepada orang yang berusaha terus kritis memandang sesuatu. Padahal berfikir kritis dan menggerutu adalah persoalan yang sangat berbeda. Berfikir kritis adalah sebuah usaha melihat sesuatu secara objektif, sementara gerutu seringkali didasari oleh subjektivitas belaka. Kritisisme dapat dipandang sebagai sebuah usaha menakar kelebihan atau kekurangan dari sesuatu. Tentu dalam hal ini diperlukan kemampuan dalam analisis fakta-fakta dan kecenderungan yang terjadi. Ibarat seorang guru, kritisisme membantunya memberikan nilai sebuah ujian praktek bernyanyi. Dalam posisi ini, seorang guru dilarang menggunakan sentimen apapun yang mungkin muncul. Bahkan T.S. Eliot, sang begawan sastra dan teater asal Inggris yang meraih hadiah Nobel Sartra pada tahun 1948, mengungkapkan bahwa  kritisisme bukan hanya digunakan un...

BARABAH: CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

Cinta pada pandangan pertama. Setidaknya begitulah yang saya rasakan. Malang dikepung gerimis sejak siang. Minggu malam (28 April 2019) sebuah sajian teater digelar oleh Teater Dii dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Malam itu Teater Dii memilih naskah Barabah karya Motinggo Busye. MOTINGGO BUSYE DAN TEATER Motinggo Busye atau Bustomi Djalil merupakan sastrawan yang lebih dikenal melalui novel-novelnya yang banyak mengekplorasi persoalan lokalitas, asmara dan seksualitas. Sementara dalam bidang teater, Motinggo sudah menunjukkan bakatnya pada usia remaja sebagai aktor dan sutradara. Hal itu dibuktikannya melalui kemampuannya mengisi sandiwara di radio yang disiarkan oleh RRI Bukittinggi berjudul Tom dan Desy . Setamat SMA, Motinggo Busye masuk ke Fakultas Hukum jurusan Tata Negara, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sayangnya, dia tidak menamatkan studinya itu karena terlalu asyik bersama para sastrawan dan mengikuti k...