Skip to main content

Posts

ISLAM DAN TEATER : Menggali Tradisi Teater dalam Peradaban Islam

SEJARAH TEATER DALAM PERDABAN ISLAM Sejak tahun 60-an, di kalangan seniman muslim muncul gagasan-gagasan tentang teater Islam, seiring dengan munculnya perbincangan-perbincangan tentang sastra Islam. Seminar-seminar tentang sastra Islam yang di dalamnya dibahas juga tentang teater Islam beberapa kali diadakan dan buku-buku yang membahas sastra dan teater Islam pun ditulis para pakar muslim [i] . Pertunjukan Khayal al-zil Kemunculan teater dalam tradisi Arab bermula dari munculnya pertunjukan teater tradisi. Pertunjukan teater tradisi tersebut diantaranya adalah Khayal al-zil (bayangan imajinasi) dan Ta'zieh (pertunjukan teater belasungkawa). Khayal al-zil merupakan pertunjukan wayang tradisional dari Mesir dan diketahui telah ada sejak abad ke 10. Ide cerita yang diangkat oleh Khayal al-zil merupakan khasanah dan metafora yang dalam tentang Islam serta pada umumnya disajikan selama bulan Ramadan. Kesenian wayang ini pada abad ke 16 menyebar ke Turki dan mendapat per...

MEMANDANG PELANGI DI HARI BURUH

Pada tanggal 1 Mei 2019, Malang kembali diguyur hujan sejak sore seperti biasa. tetapi hal itu tidak menciutkan semangat Teater Pelangi Universitas Negeri Malang untuk mementaskan karyanya. Bertajuk "Pentas MONETER #2", yang menyajikan 3 pertunjukan; Membaca Tanda-Tanda karya Rahman Sabur, Kembang Mawar karya N. Riantiarno, dan Bunga tidur, adaptasi dari Baju Loak Sobek Pundaknya karya Wiji Tukul. Pementasan dimulai dengan sebuah Monolog berjudul membaca tanda-tanda, karya Rachman Sabur. Dalam pertunjukan pertama ini, penonton diajak untuk mengenal lebih dalam isu mengenai konflik agraria. Cukup pas ditampilkan saat momen hari buruh saat itu. MEMBACA TANDA-TANDA Akhir-akhir ini negeri kita banyak dibanjiri isu-isu yang saya rasa cukup mengancam, salah satunya tentang perkerja dan investor asing. mungkin hal inilah yang menjadi dasar teman-teman dari teater pelangi mementaskan   naskah ini. Pertunjukan ini bercerita tentang seseorang yang mempertahankan tanah...

KRITISISME, KRITIK DAN TEATER

Kritik seringkali membakar mereka yang menganggap dirinya sempurna. KRITISISME MEMANDANG SENI “Merekalah para penggerutu,” setidaknya itulah yang sering dilabelkan kepada orang yang berusaha terus kritis memandang sesuatu. Padahal berfikir kritis dan menggerutu adalah persoalan yang sangat berbeda. Berfikir kritis adalah sebuah usaha melihat sesuatu secara objektif, sementara gerutu seringkali didasari oleh subjektivitas belaka. Kritisisme dapat dipandang sebagai sebuah usaha menakar kelebihan atau kekurangan dari sesuatu. Tentu dalam hal ini diperlukan kemampuan dalam analisis fakta-fakta dan kecenderungan yang terjadi. Ibarat seorang guru, kritisisme membantunya memberikan nilai sebuah ujian praktek bernyanyi. Dalam posisi ini, seorang guru dilarang menggunakan sentimen apapun yang mungkin muncul. Bahkan T.S. Eliot, sang begawan sastra dan teater asal Inggris yang meraih hadiah Nobel Sartra pada tahun 1948, mengungkapkan bahwa  kritisisme bukan hanya digunakan un...

BARABAH: CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA

Cinta pada pandangan pertama. Setidaknya begitulah yang saya rasakan. Malang dikepung gerimis sejak siang. Minggu malam (28 April 2019) sebuah sajian teater digelar oleh Teater Dii dari Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya. Malam itu Teater Dii memilih naskah Barabah karya Motinggo Busye. MOTINGGO BUSYE DAN TEATER Motinggo Busye atau Bustomi Djalil merupakan sastrawan yang lebih dikenal melalui novel-novelnya yang banyak mengekplorasi persoalan lokalitas, asmara dan seksualitas. Sementara dalam bidang teater, Motinggo sudah menunjukkan bakatnya pada usia remaja sebagai aktor dan sutradara. Hal itu dibuktikannya melalui kemampuannya mengisi sandiwara di radio yang disiarkan oleh RRI Bukittinggi berjudul Tom dan Desy . Setamat SMA, Motinggo Busye masuk ke Fakultas Hukum jurusan Tata Negara, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sayangnya, dia tidak menamatkan studinya itu karena terlalu asyik bersama para sastrawan dan mengikuti k...

FESTAWIJAYA 6 : MEMBACA SAJA SULIT

Festival Teater Brawijaya (FESTAWIJAYA) 6 telah digelar pada tanggal 20-21 April 2019 di Gedung Kebudayaan Mahasiswa Universitas Brawijaya. Lomba teater yang melibatkan beberapa fakultas itu berlangsung secara sederhana.  PEMBACAAN SEKILAS Dalam memandang sebuah tulisan mengenai perlombaan, tentu harus kita pisahkan dengan proses atau pertimbangan penjurian. Juri tentu memiliki pendapat dan penilaian yang tercermin dari penentuan para juara. Seorang pengamat (sekaligus kritikus teater) menempatkan diri sebagai penonton biasa. Suara yang dituliskan oleh seorang pengamat/kritikus teater sejatinya sama sekali tidak berkaitan atau saling bergantung dengan pertimbangan penjurian. Hal ini perlu ditegaskan di awal agar tidak menimbulkan pemahaman yang sesat. Sebagai pengemat, tentu saja pembacaan terhadap pertunjukan yang disajikan dalam FESTAWIJAYA 6 sangat terbatas. Harapannya, meskipun terjebak dalam keterbatasannya, pengamat mampu memberikan perspektif berbeda yang mungkin l...

EKSISTENSI (ALISME) IWAN SIMATUPANG

Orang pada jaman ini sangat sedikit yang mengenal Iwan Simatupang. Dari pengenalan yang sangat sedikit itu, Iwan hanya dikenal sebagai seorang penulis novel. Novelnya  Ziarah  akhir-akhir ini kembali dicetak ulang setelah 50 tahun dari jarak penerbitannya yang pertama kali (1969). Dalam dunia teater, Iwan Simatupang dikenal dari naskahnya  Bulan Bujur Sangka, Petang Di Taman  dan  RT 0 RW 0 . Sejak tahun 1960-an memang naskah-naskah Iwan sudah berates kali dipentaskan, tetapi itu tidak lantas membuat ia dikenal dan popular di kalangan seniman teater. Nama Iwan sebagai penulis naskah tentu kalah popular dibandingkan dengan Chekhov, Arifin C. Noer atau bahkan Putu Wijaya. EKSISTENSI Sebagai seorang manusia, eksistensi Iwan Simatupang dimulai sejak 18 Januari 1928. Iwan sempat belajar di HBS ( Hogere Burgerschool, pendidikan menengah umum pada zaman Hindia Belanda untuk orang Belanda, Eropa atau elite pribumi) dan dilanjutkan dengan masuk ke seko...